ZQSCORE.NEWS – Media lokal baru-baru ini melaporkan bahwa nama Anindya Bakrie, salah satu bos asal Indonesia yang memiliki saham di klub sepak bola Oxford United, telah dihapus dari daftar orang berpengaruh di klub tersebut. Situasi ini menimbulkan tanda tanya mengenai status investasi Indonesia di klub yang berkompetisi di kasta kedua Liga Inggris ini.
Oxford United, yang dikenal dengan julukan The U’s, menjadi sorotan publik Indonesia setelah diakuisisi oleh dua konglomerat, Anindya Bakrie dan Erick Thohir, yang menguasai 51 persen saham klub sejak tahun 2022. Sejak saat itu, klub ini juga menjadi tempat bagi pemain Timnas Indonesia untuk berkiprah di Liga Inggris, dengan Marselino Ferdinan dan Ole Romeny menjadi bagian dari skuad.
Marselino Ferdinan, yang didatangkan dari KMSK Deinze, hanya tampil sekali di Piala FA hingga akhir musim 2024-2025. Sementara itu, Ole Romeny, yang menjadi transfer termahal klub pada Januari, telah mencetak satu gol dalam sembilan pertandingan di Divisi Championship. Meskipun performa Ole lebih menjanjikan, kabar terbaru dari Kassam Stadium menunjukkan adanya ketidakpastian mengenai kepemilikan saham Bakrie.
Dokumen perusahaan yang diperbarui mengungkapkan bahwa Anindya Bakrie dan Horst Geicke tidak lagi terdaftar sebagai orang dengan kontrol signifikan di klub. CEO Oxford United, Tim Williams, menjelaskan bahwa aturan yang berlaku menyatakan bahwa pemegang saham yang memiliki 25 persen atau lebih akan dicatat sebagai orang dengan kontrol signifikan. Jika kepemilikan saham berada di bawah 25 persen, maka nama tersebut akan dihapus dari daftar.
“Jika Anda punya 25,1 persen, Anda masuk daftar. Jika Anda punya 24,9 persen, Anda dihapus. Sehitam-putih itu.” ujar William.
Pernyataan ini menunjukkan bahwa kepemilikan Anindya Bakrie mungkin telah turun di bawah ambang batas tersebut, yang menimbulkan spekulasi mengenai masa depan investasinya di klub.
Meskipun situasi ini menimbulkan kekhawatiran, Williams menegaskan bahwa komunikasi dengan semua pemegang saham tetap terjalin dengan baik.
“Orang-orang yang saya ajak bicara setiap hari di Vietnam, Singapura, atau Indonesia semuanya sama, tidak ada hal yang berbeda, tidak ada yang perlu dikhawatirkan,” ujarnya.
Lalu bagaimana nasib Marselino Ferdinand dan Ole Romeny?